Menyerah, itulah kata yang seringkali terlintas ketika sedang dalam keadaan
tertekan dan putus asa. Menjalani hidup tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan, tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Pilihan sudah tidak
menjadi sebuah pertimbangan, melainkan sebuah keharusan. Keharusan untuk
mempelajari hal yang tidak digemari, mengerjakan hal yang tidak disukai dan
hidup ditempat yang tidak diimpikan.
Melanjutkan hidup bukan untuk mengejar cita-cita. Karena belum ada
cita-cita yang ingin dicapai selama ini. Tak seperti orang lain yang memiliki
cita-cita sejak kecil dan berusaha untuk mewujudkannya saat dewasa. Yang ada
hanyalah serpihan harapan yang hanyut terbawa aliran waktu yang tak pernah
berhenti.
Nasihat dan pencerahan dari para pendahulu maupun mereka yang ahli sesekali
memberikan energi positif untuk berpikir secara sehat. Memberikan semangat
untuk memperbaiki keadaan dan mulai merajut cita-cita.
Tidak ada kata terlambat
selama masih diberi kesempatan untuk hidup. Semangat untuk membangun harapan
yang dulu tak terjamah. Lalu berusaha untuk tidak menunda kebaikan.
Ketika tidak memiliki Tuhan, menyerah atau melanjutkan hidup merupakan
pilihan yang dapat diambil. Namun jika memiliki Tuhan dan percaya akan
kekuasaannya, pilihan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Melanjutkan hidup
menjadi suatu keharusan. Suka atau tidak itulah yang sudah ditakdirkan. Meski
seringkali menciptakan sesuatu, namun perlu diingat bahwa manusiapun merupakan sebuah
ciptaan, dan sudah pasti karya tersebut dibuat agar sesuai dengan harapan sang
Maha Pencipta.
Komentar
Posting Komentar