Dia sangat dekat dengan Kakek. Setiap pagi, selepas sholat Subuh dia bergegas bangun dan menuju kamar kakek. Kakek sudah paham dengan maksud kedatangannya itu. Lantas kakek menyalakan TV dan memutar channel TV kesukaan anak itu. Kakek berkata "Kalo mau jadi ABRI mesti banyak makan sayur biar sehat dan kuat! Tuh lit, Popeye juga makan sayur jadi kuat". Ternyata yang ditontonnya itu film Popeye yang menurutnya itu adalah film kesukaan kakek dan anak itu. Kakek terlihat senang menemani cucunya.
Mereka seolah memiliki hobi dan kegemaran yang sama. Selain memiliki tokoh kartun yang sama, mereka juga sama-sama senang memelihara binatang. Selain berprofesi sebagai ABRI beliau pun ternyata adalah seorang dokter hewan.
Hari-hari bersama kakek menjadi moment yang paling ditunggu oleh anak itu. Dia adalah anak yang aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sehingga terkadang orang lain dibuat jengkel oleh tingkah anak itu.
Mereka sangat dekat. Jika anak itu sedang dimarahi oleh orang tuanya, ia seringkali berlari menuju tempat kakeknya berada. Kakek sering membela cucu kesayangannya tersebut.
Hingga pada suatu hari, ketika anak itu sedang bermain dengan teman sekolahnya ia mendengar nama Kakeknya disebut oleh seseorang melalui pengeras suara di Masjid. Dia mencoba mengeja dan mengingat baik-baik nama Kakeknya. Dan nama tersebut cocok dengan nama Kakenya yang ia ingat. Anak tersebut lalu berlari menuju rumah untuk memastikannya.
Sesampainya di rumah, dia melihat banyak orang telah ramai berkumpul. Anak itu lari menuju kamar dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Anak itu tidak terlihat sedih, namun seperti orang yang kebingungan. Usianya yang belum genap sepuluh tahun menjadikannya tidak begitu mengerti arti kehilangan.
Hari terus berganti. Anak itu kini telah kehilangan orang terdekatnya. Meskipun demikian, ia masih memiliki Nenek yang juga dekat dengannya. Namun hari-hari yang dilalui tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kehilangan satu orang yang sangat berharga itu membawa banyak perubahan. Kecerian Nenek pun perlahan pudar karena beliau yang sangat terpukul atas kepergian Kakek.
Tahun demi tahun dilalui oleh anak itu. Kini dia telah kehilangan Kakek dan Neneknya. Saat ini dia tinggal selangkah lagi lulus dari Sekolah Menengah Atas. Dia sudah mengerti arti kehilangan. Cita-cita yang dulu pernah dikatakan kepada Kakek sudah tak lagi terpikirkan. Dia kehilangan motivator terbesar dalam hidupnya.
Setelah semuanya berlalu anak itu akhirnya mengerti. Ternyata cita-citanya yang sesungguhnya di masa kecil itu bukanlah ingin menjadi apapun yang ia sampaikan kepada Kakek atau Gurunya di sekolah saat itu, tetapi cita-citanya ialah ingin selalu bersama-sama dengan orang yang berharga dalam hidupnya dan berusaha membuat mereka bahagia.
Komentar
Posting Komentar